Di Antara Uap yang Menyapa Pagi

LestariNews.com – Masih ada sisa embun di ujung dedaunan, dan langit belum sepenuhnya biru. Aku duduk di beranda yang berdebu, menatap secangkir kopi hitam yang perlahan menebarkan aroma rindu.
Uapnya menari lembut di udara, seolah ingin menulis sesuatu di antara cahaya mentari pertama. Tentang waktu yang berjalan pelan, tentang hati yang diam-diam belajar berdamai, tentang kenangan yang selalu pulang lewat aroma kopi pagi.
Setiap teguknya mengantar langkah kenangan, mengenang wajah yang dulu tersenyum dari seberang meja, tanganmu dulu yang gemetar kecil saat menuang air, dan suaramu yang lembut berkata: “Pagi itu tak lengkap tanpa sedikit pahit.”
Kini, hanya aku dan kursi kosong di sebelah, dan secangkir kopi yang uapnya seperti napas masa lalu. Aku menyeruput perlahan, merasakan panas yang menelusup sampai ke dada, membawa getir yang anehnya terasa menenangkan.
Kopi ini bukan sekadar minuman, ia adalah jeda dari hiruk kehidupan, sebuah waktu yang menundukkan kesibukan, dan memberi ruang bagi hati untuk mengingat.
Setiap butir bubuknya menyimpan cerita: tentang pagi-pagi yang pernah riuh, tentang tawa yang pernah singgah, tentang kehilangan yang kini jadi bagian dari rasa.
Aku menatap uapnya lama-lama, ia seperti roh lembut yang menyapa, mungkin pesan dari langit, atau sekadar bisikan kecil yang berkata: “Lanjutkan hari, meski yang kau rindukan tak lagi di sini.”
Kopi memang pahit, tapi bukankah hidup juga begitu Kadang kita hanya perlu menyesapnya perlahan,
tanpa tergesa, tanpa terlalu ingin menambah gula, biar lidah kita terbiasa menerima rasa apa adanya.
Dan di antara hirupan itu, aku merasa tenang. Pahit yang dulu kutolak, kini jadi teman, hangat yang dulu kutakuti, kini jadi pelukan.
Cahaya pagi semakin kuat, burung-burung mulai bernyanyi di kejauhan, sementara ampas di dasar cangkir menyisakan bentuk tak beraturan, seperti peta menuju kenangan yang tak pernah usai.
Aku menghela napas panjang, menyadari: bahwa setiap pagi adalah kesempatan baru untuk mengingat, melepaskan, dan memulai lagi.
Maka aku bangkit, meninggalkan cangkir yang mulai dingin, tapi dengan hati yang kembali hangat. Karena di antara uap kopi yang perlahan lenyap, aku menemukan diriku, yang dulu hilang, kini pulang perlahan, bersama secangkir kopi pagi. (Gazali Ligawa)



