Religi

Gelap yang Berdoa

LestariNews.com – Di langit yang berangsur gelap, bintang-bintang menorehkan titik cahaya, seolah langit pun bersujud dalam sunyi, menyambut malam yang penuh rahasia.

Malam Jumat tiba dengan langkah lembut, menyapu lelah yang tersisa di pundak, menyelinap ke jendela jiwa yang diam, mengingatkan bahwa ampunan tak pernah pergi.

Di masjid-masjid tua, lampu-lampu bergetar, menyinari wajah yang haus kedamaian, suara azan menembus hening malam, membisikkan harap bagi mereka yang tersesat.

Orang-orang duduk bersila, tangan terangkat, menyusun doa yang tak terdengar di telinga dunia, tapi menggema dalam ruang hati, menjahit luka dengan benang keikhlasan.

Di sudut jalan, lentera kecil menatap bumi, menebar cahaya di rumah-rumah sepi, seperti janji bahwa kegelapan bukan akhir, cahaya selalu hadir bagi yang menunggu.

Malam Jumat adalah guru yang bijak, mengajarkan bahwa setiap detik berharga, bahwa waktu adalah titipan yang harus dijaga, dan setiap langkah adalah doa yang beresonansi.

Di antara hembus angin dan gemerisik pohon, ada bisikan yang hanya jiwa bisa dengar, tentang mereka yang pergi, tentang mereka yang tersesat, tentang tangis yang tak terdengar, tawa yang terlupakan.

Aku menutup mata, menyelipkan harap di malam ini, memohon agar setiap luka menemukan obatnya, dan setiap hati menemukan kedamaian sejati, seperti bumi yang diam tapi terus berdoa.

Ketika fajar menyingkap tirai gelap, kupetik sisa-sisa ketenangan malam ini, membawa cahaya yang tak hanya menembus mata, tapi menyalakan jiwa untuk menjadi lebih baik. (Gazali Ligawa)

Related Articles

Back to top button